MarketIntel
insight

10 Kota dengan Spending Makanan Jadi Tertinggi di Indonesia

10 Mei 2026 · 7 menit baca

Kalau ditanya "kota mana di Indonesia yang paling banyak menghabiskan uang untuk makanan jadi," kebanyakan orang akan menjawab Jakarta. Dan memang benar — 4 dari 5 teratas adalah wilayah Jakarta. Tapi siapa yang menempati peringkat 5, mengalahkan Jakarta Barat? Jawabannya mungkin tidak Anda duga.

Kami menganalisis data pengeluaran makanan dan minuman jadi dari seluruh 514 kabupaten/kota di Indonesia menggunakan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) BPS 2025. Hasilnya: ada kejutan dari Bali, konfirmasi kekuatan kota-kota satelit Jabodetabek, dan gap yang luar biasa besar antara kota teratas dan terbawah.

Ranking 10 Kota dengan Spending Makanan Jadi Tertinggi

Rata-rata nasional spending makanan dan minuman jadi adalah Rp 47.904 per kapita per minggu — dihitung dari 514 kabupaten/kota. Angka ini menjadi benchmark: Location Quotient (LQ) di atas 1.0 berarti spending kota tersebut di atas rata-rata nasional.

Ranking

Kota/Kabupaten

Spending/Kapita/Minggu

LQ

vs Nasional

1

Kota Jakarta Utara

Rp 135.229

2.82

282%

2

Kota Jakarta Selatan

Rp 132.099

2.76

276%

3

Kota Jakarta Pusat

Rp 125.839

2.63

263%

4

Kota Depok

Rp 112.151

2.34

234%

5

Badung

Rp 112.111

2.34

234%

6

Kota Jakarta Barat

Rp 111.609

2.33

233%

7

Kota Denpasar

Rp 103.440

2.16

216%

8

Kota Bekasi

Rp 102.764

2.15

215%

9

Kota Surabaya

Rp 102.138

2.13

213%

10

Kota Tangerang

Rp 101.764

2.12

212%

Sumber: BPS Susenas 2025, diolah oleh MarketIntel. Spending dihitung per kapita per minggu dalam Rupiah. LQ = spending lokal / rata-rata nasional (Rp 47.904).

Temuan utama: Seluruh kota di top 10 memiliki LQ di atas 2.0 — artinya warganya menghabiskan lebih dari 2 kali lipat rata-rata nasional untuk makanan jadi. Ini bukan selisih kecil. Pasar makanan jadi di 10 kota ini berada di level yang berbeda secara fundamental dari mayoritas kota Indonesia.

Yang mengejutkan: Kabupaten Badung (Bali) di peringkat 5 dengan Rp 112.111/kapita/minggu — hanya selisih Rp 40 dari Kota Depok dan lebih tinggi dari Jakarta Barat. Ini berarti Badung bukan hanya destinasi wisata, tapi juga salah satu pasar makanan jadi terbesar di Indonesia.

Kenapa Badung dan Bali Masuk Top 10?

Dua wilayah Bali masuk top 10 — Badung di peringkat 5 dan Kota Denpasar di peringkat 7. Ini fenomena yang jarang dibahas. Kebanyakan analisis bisnis makanan di Indonesia fokus ke Jabodetabek, tapi data menunjukkan Bali layak mendapat perhatian yang sama.

Ada beberapa faktor yang mendorong tingginya spending makanan jadi di Bali. Pertama, industri pariwisata menciptakan ekosistem kuliner yang sangat aktif — bukan hanya restoran untuk turis, tapi juga warung dan tempat makan untuk ratusan ribu pekerja di sektor hospitality yang butuh makan setiap hari. Kedua, Badung dan Denpasar punya populasi pendatang yang besar dari seluruh Indonesia — pekerja yang tinggal jauh dari keluarga dan lebih sering membeli makanan jadi dibanding memasak.

Bagi pelaku bisnis makanan yang selama ini hanya melirik Jabodetabek, data ini memberikan perspektif baru: Bali adalah pasar makanan jadi yang setara dengan Jakarta, bukan sekadar pasar restoran turis.

Surabaya: Satu-satunya dari Jawa Timur

Kota Surabaya masuk di peringkat 9 dengan Rp 102.138/kapita/minggu — satu-satunya kota di luar Jabodetabek dan Bali yang berhasil tembus top 10. Ini konsisten dengan posisi Surabaya sebagai kota terbesar kedua di Indonesia.

Yang menarik, Surabaya mengalahkan beberapa kota satelit Jakarta yang secara geografis lebih dekat dengan pusat ekonomi: Jakarta Timur (Rp 98.107), Kota Bogor (Rp 93.298), dan Kota Tangerang Selatan (Rp 87.224) semuanya berada di luar top 10.

Bagi pelaku bisnis, Surabaya menawarkan kombinasi yang menarik: demand setara kota-kota Jabodetabek, tapi dengan biaya operasional (sewa, tenaga kerja, bahan baku) yang umumnya lebih rendah. Ini pola yang sama dengan keunggulan kota-kota satelit Jakarta — demand tinggi, biaya moderat.

Dominasi Jabodetabek: 6 dari 10

Enam kota Jabodetabek mendominasi top 10 — Jakarta Utara, Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, Depok, Jakarta Barat, Bekasi, dan Tangerang. Ini mengonfirmasi bahwa wilayah metropolitan Jakarta tetap menjadi pasar makanan jadi terbesar di Indonesia.

Tapi ada nuansa penting: kota-kota satelit (Depok, Bekasi, Tangerang) bersaing ketat dengan wilayah Jakarta inti. Selisih antara Jakarta Barat (Rp 111.609) dan Kota Tangerang (Rp 101.764) hanya sekitar 10%. Sementara biaya sewa ruko di kota satelit bisa 40-60% lebih murah.

Implikasinya: untuk bisnis makanan baru yang mengincar pasar Jabodetabek, kota-kota satelit seringkali memberikan margin bersih yang lebih baik dibanding Jakarta inti — demand hampir sama, biaya jauh lebih rendah.

Sisi Lain: Gap 205 Kali Lipat

Untuk memberikan konteks seberapa besar variasi antar wilayah di Indonesia, berikut 5 kabupaten dengan spending makanan jadi terendah:

Ranking

Kabupaten

Spending/Kapita/Minggu

vs Nasional

510

Tolikara

Rp 4.286

9%

511

Yahukimo

Rp 3.515

7%

512

Intan Jaya

Rp 3.154

7%

513

Paniai

Rp 784

2%

514

Deiyai

Rp 660

1%

Sumber: BPS Susenas 2025, diolah oleh MarketIntel.

Jakarta Utara (Rp 135.229) menghabiskan 205 kali lipat lebih banyak dari Deiyai (Rp 660) untuk makanan jadi. Ini bukan sekadar perbedaan daya beli — ini mencerminkan perbedaan fundamental dalam pola hidup. Di wilayah terpencil Papua, masyarakat menanam dan mengolah makanan sendiri. Konsep "beli makanan jadi" hampir tidak ada karena memang tidak ada infrastruktur penjual makanan jadi seperti di kota besar.

Data ini menunjukkan bahwa peluang bisnis makanan jadi sangat terkonsentrasi secara geografis. Memilih kota yang tepat bukan sekadar keuntungan kecil — ini perbedaan antara pasar yang ada dan pasar yang hampir tidak eksis.

Apa Artinya untuk Bisnis Anda?

Ranking di atas menunjukkan di mana demand makanan jadi paling kuat secara agregat. Tapi spending tinggi di level kota tidak otomatis berarti setiap lokasi di kota tersebut cocok untuk bisnis Anda. Jakarta Utara yang juara pun punya area yang sangat beragam — Kelapa Gading dengan Cilincing punya karakteristik pasar yang sangat berbeda.

Untuk menentukan apakah lokasi spesifik Anda layak, Anda perlu menggabungkan data demand kota (seperti yang ada di artikel ini) dengan analisis kompetitor, traffic, dan daya beli di level kecamatan atau bahkan per titik lokasi. Inilah yang dilakukan fitur Analisis Lokasi MarketIntel — menggabungkan data BPS, Google Maps, dan model ekonomi menjadi rekomendasi Go/No-Go per alamat, mulai dari Rp 29K per analisis.

→ Cek Peluang Lokasi Bisnis Anda

Metodologi

Data bersumber dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) BPS 2025 mencakup 514 kabupaten/kota di Indonesia. Kategori "Makanan dan Minuman Jadi" meliputi seluruh pengeluaran untuk makanan siap konsumsi yang dibeli dari luar rumah tangga — termasuk makanan dari warung, restoran, pedagang kaki lima, makanan bungkus, dan minuman jadi. Angka dihitung per kapita per minggu dalam Rupiah.

Location Quotient (LQ) dihitung sebagai rasio spending lokal dibagi rata-rata nasional (Rp 47.904). LQ di atas 1.0 berarti di atas rata-rata, LQ 2.0 berarti dua kali lipat rata-rata nasional. Ranking disusun berdasarkan spending absolut, bukan LQ.

Angka spending merepresentasikan rata-rata pengeluaran masyarakat dan bukan menjamin omzet bisnis tertentu. Untuk estimasi omzet berdasarkan lokasi spesifik, gunakan fitur Analisis Lokasi MarketIntel.


Artikel ini ditulis oleh tim MarketIntel berdasarkan analisis data BPS Susenas 2025. Pembaruan data dilakukan setiap tahun mengikuti rilis data BPS terbaru.


Mau validasi lokasi bisnis Anda?

Analisis lokasi lengkap berdasarkan data BPS dan Google Maps. Gratis untuk analisis pertama.

Mulai Analisis Gratis